Kamis, 16 Oktober 2014

Arab: Bangsa Pilihan Allah

As Sirah An Nabawiyah:

~Arab: Bangsa Pilihan Allah~

Rasulullah saw menjalani 4 tahun pertama masa kecilnya di tengah padang pasir, di lingkungan Bani Sa’ad. Beliau tumbuh sebagai anak yang kuat, berbadan sehat, fasih tutur katanya, pemberani, dan tangkas menunggang kuda di usianya yang masih kecil. Di tengah kesunyian dan ketenangan gurun, sinar mataharinya, dan kemurnian udaranya itulah bakat beliau tumbuh dan berkembang.

Saudaraku, tidak dipungkiri bahwa setiap kali seseorang tinggal dalam suasana yang dekat dengan fitrah dan jauh dari kehidupan yang kompleks maka hal itu menjadi faktor yang sangat kuat dalam menjernihkan pikirannya, menguatkan akal, tubuh, dan jiwanya, dan menyelamatkan logika dan cara berpikirnya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala tidak memilih bangsa Arab untuk menyampaikan risalah secara kebetulan dan tanpa alasan, tetapi karena jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang sudah memiliki peradaban, mereka memiliki jiwa yang lebih bersih, cara berpikir yang lebih selamat, akhlak yang lebih lurus, dan lebih kuat menanggung beban-beban peperangan di jalan dakwah dan menyebarluaskan risalah ke seluruh penjuru dunia.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Maraji’: As-Sirah An-Nabawiyah Durus Wa ‘Ibar

Akhlak Mulia: Menahan Gangguan

Materi Akhlaq:

~ Akhlak Mulia: Menahan Gangguan ~

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah orang yg kaum muslimin selamat dari gangguan lisan & tangannya. (Shahih Bukhari no. 10 & Shahih Muslim no. 41)

Saudaraku, ketahuilah bahwa gangguan itu ada dua macam: gangguan lisan & gangguan perbuatan. Termasuk akhlak mulia kita menahan lisan kita dari mengganggu orang lain dengan cara:

1. Tidak ghibah (membicarakan kekurangan orang lain ketika orang tersebut tidak ada).
2. Tidak namimah (mengadukan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba).
3. Tidak mencela orang lain.
4. Tidak mencaci maki orang lain.
5. Tidak merendahkan orang lain.
6. Tidak mengejek orang lain.
7. Tidak melaknat orang lain.
8. Dan bentuk-bentuk gangguan lisan yg lain.

Dan menahan perbuatan kita dari mengganggu orang lain seperti:

1. Melanggar hak orang lain.
2. Membunuh orang lain tanpa alasan yg dibenarkan oleh syari’at.
3. Berzina.
4. Mencuri.
5. Memukul / menganiaya orang lain.
6. Dan bentuk-bentuk gangguan perbuatan yg lain.

Saudaraku, ketahuilah bahwa barangsiapa yg tidak bisa menahan lisan & perbuatannya dari mengganggu orang lain maka bisa dipastikan dia kurang memiliki akhlak yg mulia. Itu artinya --berdasarkan hadits di atas-- dia belum menjadi seorang muslim yg sempurna keislamannya. Na’udzubillahi min dzalik.

اللَّهُمَّ كَمَ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan penciptaanku maka baguskanlah akhlakku. (Shahih Al-Jami’ no. 1307)

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Selasa, 14 Oktober 2014

Siapakah Yang Paling Baik Perbuatannya

Tafsir Al Qur'an:

~ Siapakah Yang Paling Baik Perbuatannya ~

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang paling baik perbuatannya. (QS Al-Kahfi: 7)

Tafsir:

Allah ta’ala mengabarkan bahwa Dia menjadikan segala sesuatu di atas muka bumi berupa makanan dan minuman yang lezat, tempat tinggal yang baik, pepohonan, sungai-sungai, lahan-lahan pertanian, buah-buahan, pemandangan yang indah, taman-taman yang asri, suara-suara yang merdu, emas, perak, kuda perang, unta, dll. Semua itu Allah ta’ala jadikan sebagai perhiasan, ujian, dan cobaan di kehidupan dunia ini, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang paling baik perbuatannya (maksudnya: yang paling ikhlas dan paling benar perbuatannya). Walaupun demikian Allah menjadikan semua ini fana dan akan sirna.

Allah subhanahu wata’ala tidak berfirman, “Siapakah yang paling banyak perbuatannya.” Dari sini kita memahami bahwa penilaian amal (perbuatan) itu bukan pada kuantitasnya (jumlahnya), tetapi pada kualitasnya (paling baik perbuatannya). Sungguh sangat rugi seseorang yang hanya sibuk untuk memperbanyak ibadahnya tanpa peduli dengan keikhlasan dan kesesuaian ibadahnya dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Maraji’: Tafsir Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, & As-Sa’di

Senin, 13 Oktober 2014

Amalan Dgn Balasan Besar

Tazkiyatun Nufus:

"Amalan Dgn Balasan Besar"

Saudaraku, ketahuilah bhw jk ikhlas sdh menetap pd suatu amalan mk Allah akan memberikan balasan yg besar kpd pelakunya, meskipun menurut pandangan mata amalan tsb mudah dilakukan & sedikit jmlnya. Ibnu Taimiyah menjelaskan kaidah ini dgn berkata, “Satu jenis amalan yg kadang2 dilakukan oleh seseorg dgn diiringi keikhlasan & penghambaan yg sempurna, karena amalan tsb Allah mengampuni dosa2 besar yg dilakukannya, spt dijelaskan dlm hadits ‘kartu kalimat tauhid’. Demikianlah keadaan siapa sj yg mengucapkan kalimat tauhid dgn ikhlas & jujur, spt pemilik ‘kartu kalimat tauhid’. Jk tdk demikian mk semua pelaku dosa besar yg masuk neraka juga mengucapkan kalimat tauhid & ucapan mrk tsb tdk mampu mengalahkan beratnya dosa2 mrk spt ucapan kalimat tauhid yg diucapkan oleh pemilik ‘kartu kalimat tauhid’ tsb.”

Kemudian beliau sebutkan hadits ttg wanita pelacur yg memberi minum seekor anjing lalu Allah ampuni dosa2nya & hadits ttg laki2 yg menyingkirkan gangguan di jalan lalu Allah ampuni dosa2nya, kemudian beliau berkata, “Wanita pelacur ini memberi minum seekor anjing diiringi dgn iman yg murni yg ada dlm hatinya, krn itu Allah mengampuni dosa2nya. Jk tdk demikian mk tdk semua wanita pelacur yg memberi minum seekor anjing diampuni dosa2nya. Mk amalan2 itu bertingkat2 sesuai dgn bertingkat2nya iman & pengagungan pd Allah yg ada dlm hati.” (Minhaj As-Sunnah 6/218)

Krn itulah Rasulullah bersabda, “Janganlah kau remehkan perkara ma’ruf.” (HR Abu Daud 3562)

Saudaraku, janganlah menunda2 amalan krn mengejar amalan besar yg belum tentu kita bisa menjaga keikhlasan pdnya! Tapi kerjakanlah amalan apa sj yg kita bisa menjaga keikhlasan pdnya walaupun amalan tsb terlihat kecil & remeh, krn nilai amalan itu ada pd nilai ikhlasnya, bukan semata2 besar & kecilnya amalan tsb.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru

Doa - Doa:

~ Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru ~

اللّهُـمَّ لَـكَ الحَـمْـدُ أنْـتَ كَسَـوْتَنيهِ، أََسْأََلُـكَ مِـنْ خَـيْرِهِ وَخَـيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِـنْ شَـرِّهِ وَشَـرِّ مَا صُنِعَ لَـهُ

Allâhumma laka-l-hamdu. Anta kasawtanîhi. As’aluka min khayrihi wa khayri mâ suni'a lahu, wa a'udhu bika min sharrihi wa sharri mâ suni'a lahu.

“Ya Allah, hanya milikMu segala puji, Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepadaMu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan yang ia diciptakan karenanya”.

(Abu Daud 4020 & Tirmidzi 1767)

~ Doa Bagi Orang Yang Mengenakan Pakaian Baru ~

تُبْـلِيْ وَيُـخْلِفُ اللهُ تَعَالَى

Tublî wa yukhlifu l-lâhu ta'âlâ.

Kenakanlah sampai lusuh, semoga Allah ta’ala memberikan gantinya kepadamu.

(Shahih Abu Daud 2/760)

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Sabtu, 11 Oktober 2014

Merasa Puas Dengan Yang Cukup

Nasehat Para Sahabat Nabi:

~Merasa Puas Dengan Yang Cukup ~

Salman Al-Farisi masuk menemui Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma sedangkan dia adalah orang dekatnya. Salman ra berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, berikanlah aku nasihat!”

Abu Bakar ra berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membuka dunia untuk kalian. Oleh karena itu janganlah kalian mengambil darinya kecuali apa yang cukup untuk kalian. Sesungguhnya barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu janganlah kalian melanggar Allah ‘azza wa jalla tentang jaminannya yang menyebabkan Allah akan membanting kalian di atas wajah kalian dalam neraka.” (Muqtathafat Min Mawa’izhish Shahabah)

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Berjihadlah Dengan Ringan atau Berat

Qoul Ulama Ahluts Tsughur:

~ Berjihadlah Dengan Ringan atau Berat ~

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu membaca surah At-Taubah, lalu sampailah pada ayat ini:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat dan berjihadlah kalian dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. (At-Taubah: 41)

Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Aku melihat Rabb kita memerintahkan kita untuk berangkat berjihad dalam keadaan tua dan muda. Hai anak-anakku siapkanlah perbekalan untukku!’

Anak-anaknya menjawab, ‘Mudah-mudahan Allah merahmatimu. Sungguh engkau telah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau wafat, bersama Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sampai beliau wafat, dan bersama Umar radhiallahu ‘anhu sampai beliau wafat. Biarkanlah kami yang menggantikanmu untuk berperang.’

Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu menolak keinginan anak-anaknya. Beliau berangkat bersama pasukan jihad menyeberangi lautan dengan kapal, lalu wafat dalam perjalanan tsb. Mereka tidak menemukan pulau untuk menguburkan jenazahnya kecuali setelah berlalu 9 hari, namun jenazahnya tidak berubah. Akhirnya mereka menguburkan beliau di pulau tsb.”

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ