Senin, 13 Oktober 2014

Amalan Dgn Balasan Besar

Tazkiyatun Nufus:

"Amalan Dgn Balasan Besar"

Saudaraku, ketahuilah bhw jk ikhlas sdh menetap pd suatu amalan mk Allah akan memberikan balasan yg besar kpd pelakunya, meskipun menurut pandangan mata amalan tsb mudah dilakukan & sedikit jmlnya. Ibnu Taimiyah menjelaskan kaidah ini dgn berkata, “Satu jenis amalan yg kadang2 dilakukan oleh seseorg dgn diiringi keikhlasan & penghambaan yg sempurna, karena amalan tsb Allah mengampuni dosa2 besar yg dilakukannya, spt dijelaskan dlm hadits ‘kartu kalimat tauhid’. Demikianlah keadaan siapa sj yg mengucapkan kalimat tauhid dgn ikhlas & jujur, spt pemilik ‘kartu kalimat tauhid’. Jk tdk demikian mk semua pelaku dosa besar yg masuk neraka juga mengucapkan kalimat tauhid & ucapan mrk tsb tdk mampu mengalahkan beratnya dosa2 mrk spt ucapan kalimat tauhid yg diucapkan oleh pemilik ‘kartu kalimat tauhid’ tsb.”

Kemudian beliau sebutkan hadits ttg wanita pelacur yg memberi minum seekor anjing lalu Allah ampuni dosa2nya & hadits ttg laki2 yg menyingkirkan gangguan di jalan lalu Allah ampuni dosa2nya, kemudian beliau berkata, “Wanita pelacur ini memberi minum seekor anjing diiringi dgn iman yg murni yg ada dlm hatinya, krn itu Allah mengampuni dosa2nya. Jk tdk demikian mk tdk semua wanita pelacur yg memberi minum seekor anjing diampuni dosa2nya. Mk amalan2 itu bertingkat2 sesuai dgn bertingkat2nya iman & pengagungan pd Allah yg ada dlm hati.” (Minhaj As-Sunnah 6/218)

Krn itulah Rasulullah bersabda, “Janganlah kau remehkan perkara ma’ruf.” (HR Abu Daud 3562)

Saudaraku, janganlah menunda2 amalan krn mengejar amalan besar yg belum tentu kita bisa menjaga keikhlasan pdnya! Tapi kerjakanlah amalan apa sj yg kita bisa menjaga keikhlasan pdnya walaupun amalan tsb terlihat kecil & remeh, krn nilai amalan itu ada pd nilai ikhlasnya, bukan semata2 besar & kecilnya amalan tsb.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru

Doa - Doa:

~ Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru ~

اللّهُـمَّ لَـكَ الحَـمْـدُ أنْـتَ كَسَـوْتَنيهِ، أََسْأََلُـكَ مِـنْ خَـيْرِهِ وَخَـيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِـنْ شَـرِّهِ وَشَـرِّ مَا صُنِعَ لَـهُ

Allâhumma laka-l-hamdu. Anta kasawtanîhi. As’aluka min khayrihi wa khayri mâ suni'a lahu, wa a'udhu bika min sharrihi wa sharri mâ suni'a lahu.

“Ya Allah, hanya milikMu segala puji, Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepadaMu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan yang ia diciptakan karenanya”.

(Abu Daud 4020 & Tirmidzi 1767)

~ Doa Bagi Orang Yang Mengenakan Pakaian Baru ~

تُبْـلِيْ وَيُـخْلِفُ اللهُ تَعَالَى

Tublî wa yukhlifu l-lâhu ta'âlâ.

Kenakanlah sampai lusuh, semoga Allah ta’ala memberikan gantinya kepadamu.

(Shahih Abu Daud 2/760)

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Sabtu, 11 Oktober 2014

Merasa Puas Dengan Yang Cukup

Nasehat Para Sahabat Nabi:

~Merasa Puas Dengan Yang Cukup ~

Salman Al-Farisi masuk menemui Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma sedangkan dia adalah orang dekatnya. Salman ra berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, berikanlah aku nasihat!”

Abu Bakar ra berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membuka dunia untuk kalian. Oleh karena itu janganlah kalian mengambil darinya kecuali apa yang cukup untuk kalian. Sesungguhnya barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu janganlah kalian melanggar Allah ‘azza wa jalla tentang jaminannya yang menyebabkan Allah akan membanting kalian di atas wajah kalian dalam neraka.” (Muqtathafat Min Mawa’izhish Shahabah)

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Berjihadlah Dengan Ringan atau Berat

Qoul Ulama Ahluts Tsughur:

~ Berjihadlah Dengan Ringan atau Berat ~

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu membaca surah At-Taubah, lalu sampailah pada ayat ini:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat dan berjihadlah kalian dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. (At-Taubah: 41)

Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Aku melihat Rabb kita memerintahkan kita untuk berangkat berjihad dalam keadaan tua dan muda. Hai anak-anakku siapkanlah perbekalan untukku!’

Anak-anaknya menjawab, ‘Mudah-mudahan Allah merahmatimu. Sungguh engkau telah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau wafat, bersama Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sampai beliau wafat, dan bersama Umar radhiallahu ‘anhu sampai beliau wafat. Biarkanlah kami yang menggantikanmu untuk berperang.’

Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu menolak keinginan anak-anaknya. Beliau berangkat bersama pasukan jihad menyeberangi lautan dengan kapal, lalu wafat dalam perjalanan tsb. Mereka tidak menemukan pulau untuk menguburkan jenazahnya kecuali setelah berlalu 9 hari, namun jenazahnya tidak berubah. Akhirnya mereka menguburkan beliau di pulau tsb.”

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Jumat, 10 Oktober 2014

Anak Yatim Itu Bernama Muhammad

As Sirah An Nabawiyah:

"Anak Yatim Itu Bernama Muhammad"

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Bukankah Dia mendapatimu sbg seorg yatim lalu Dia melindungimu? (Adh-Dhuha: 6)

Muhammad saw tumbuh sbg seorg yatim yg ditinggal mati oleh ayahnya, Abdullah saat masih berusia 2 bln dlm kandungan. Sejak lahir beliau sdh tdk mengenal sosok wajah ayah yg tlh menjadi sbb lahirnya ke dunia. Saat menginjak usia 6 thn, Aminah, ibunya juga wafat dlm perjalanan ziarah ke makam ayahnya. Di usianya yg masih kecil beliau sdh merasakan pahitnya hidup tanpa kasih sayang ayah & ibu yg sangat dibutuhkan. Stlh itu beliau diasuh oleh kakek yg sangat mencintainya, Abdul Muththalib. Hanya selama 2 thn beliau merasakan hangatnya kasih sayang kakek krn di usianya yg ke-8 thn kakek pun wafat. Berikutnya beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, saudara Abdullah. Di bawah pengasuhannya beliau tumbuh menjadi sosok manusia dewasa yg dihiasi akhlak mulia.

Pahit getirnya hidup di masa kecil sbg anak yatim tlh menjadikannya sbg sosok yg mampu memaknai kehidupan. Beliau tumbuh menjadi sosok yg penuh kasih sayang thdp anak yatim, org2 miskin, atau org2 yg menderita siksa. Beliau banyak berlaku adil, berbuat baik, & memberikan kasih sayang kpd lapisan masyarakat ini. Pengalaman pahit tsb ternyata tlh mampu membentuk karakternya sbg org yg sangat peduli & mampu merasakan penderitaan org2 lemah & kurang beruntung.

Rasulullah saw bersabda menjelaskan ttg tanda kesempurnaan iman seseorg,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tdk sempurna iman seseorg dari kalian shg dia menyukai utk sdrnya apa saja yg dia sukai utk dirinya sendiri. (Bukhari no. 13)

Ya Allah janganlah Kau halangi kami utk meneladani Rasul yg Kau cintai ini.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

Minggu, 05 Oktober 2014

Doa Ketika Mengenakan Pakaian

Doa - Doa:

~ Doa Ketika Mengenakan Pakaian ~

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَـيـْرِ حَوْلٍ مِنّيْ وَلاَ قُـوَّةٍ

Al hamdu li-l-lâhi l-ladhî kasânî hadhâ th-thawbawa razaqanîhi min ghayri hawlin minnî wa lâ quwwatin.

“Segala puji bagi Allah yang memberi pakaian ini kepadaku sebagai rezeki daripadaNya tanpa daya dan kekuatan dariku”

(Abu Daud 4023, Tirmidzi 3458, Ibnu Majah 3285, & dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Irwa' Al-Ghalil 7/47)

Marah Pada Diri Sendiri

Nasehat Para Sahabat Nabi:

~ Marah Pada Diri Sendiri ~

Abu Bakar Ash-Shiddiq ra berkata, “Barangsiapa marah kepada dirinya tentang dzat Allah maka Allah akan jadikan dia aman dari murkaNya.” (Muqtathafat Min Mawa’izhish Shahabah)

Penjelasan:

Barangsiapa marah terhadap dirinya karena telah melanggar hak Allah dengan kemarahan yang mendorong dia menyesal dari kesalahan yang telah dilakukan kemudian memperbaiki diri dari kesalahan tersebut dan menggantinya dengan perbuatan-perbuatan baik maka pasti Allah akan menjadikan dia aman dari murkaNya.

Rasulullah saw bersabda, “Hak Allah atas hambaNya adalah mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan sesuatu denganNya.” (Bukhari 5967 & Muslim 30)

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya. (QS. Ali Imran: 102)

Abdullah bin Mas’ud ra menjelaskan pengertian ayat di atas dengan berkata, “Allah ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.” (Tafsir Ibnu Katsir dan berkata sanadnya shahih mauquf)

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ